Dengan lahan seluas 300 m2, Bpk. Suyatna mengolah lahan tersebut dengan menanamkan beberapa batang poon jambu biji. Lahan tersebut awalnya ditanami padi. namun karena lahan tersebut sudah mulai kering dan padi sangat membutuhkan air. sehingga jika di lahan tersebut ditami padi, maka para petani harus membuat irigasi. Dalam pembuatan irigasi didaerah ini cukup susah dan membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya yang cukup banyak. Dengan berbagai permasalahan yang telah dijelaskan oleh salah seorang petani di daerah Rancabungur tersebut, Bapak Suyatna, maka para petani di sekitar daerah tersebut beralih ke berkebun jambu biji. Namun ada juga terdapat beberapa petani yang menanam talas, bayam, dan kangkung sebagai tambahannya. Kebun jambu milik Pak Suyatna sendiri sudah hampir 12 tahun dikelola oleh nya.
Selain alasan diatas, periode pemanenan juga termasuk salah satu alasan petani tersebut beralih ke berkebun jambu, seperti yang diungkapkan Pak Suyatna pada wawancara yang teah kami lakukan pada jumat, 23 Agustus 2019 kemaren, “untuk periode panennnya, padi agak lama. Sedangkan jambu panennya satu minggu dua kali”, ujar Pak Suyatna. Jambu biji berbuah pada umur lima bulan. “ ya, paling dari awal menanam sampai berbuah hanya menunggu sekitar lima bulan saja”, ujar Pak Yatna.
Dalam masalah pemasaran, di daerah tersebut didatangi langsung oleh tengkulak yang mau membeli komoditas jambu biji tersebut. Tengkulak yang biasa mengambil jambu ini berasal dari cilebut, karena didaerah cilebut sendiri belum begitu banyak petani yang berkebun dengan komoditas jambu biji. Dalam jumlah hasil panen sebesar lima kwintal saja sudah bisa dibeli oleh tengkulak. Biasanya hasil panen Pak Suyatna sebesar satu kwintal/minggu. Bahkan tangkulak berani memberikan uang di awal ke petani agar petani tidak menjual nya ke tangkulak lain. “ biasanya ada tengkulak yang datang, panennya lima kwintal saja udah diambil sama tengkulaknya”, ujar Pak Suyatna. Dalam pemasaran ini terdapat perselisihan harga anatara petani dan tengkulak. Misalkan harga yang ditawarkan petani sebesar Rp3.000/kg, namun tengkulak menawarkan dengan harga yang lebih rendah. Dalam keadaan seperti ini Pak Suyatna, lebih memilih menjual langsung jambu biji hasil panennya sendiri ke pasar dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga yang ditawarkan tengkulak.
Menurut Pak Suyatna, selain periode panen nya yang sebentar, modal juga merupakan salah satu alasan Pak Suyatna untuk beralih ke kebun jambu biji. Dalam pemodalan bibit maupun pupuk jambu biji ini hanya memerlukan modal yang sedikit dibandingkan dengan padi. Bibit yang digunakan hanya sekali saja, sedangkan padi setiap selesai panen membutuhkan benih baru lagi. Begitu pula dengan pupuk yang digunakan untuk jambu biji ini hanya menggunakan pupuk kandang dengan harga Rp8000/karung. “modalnya ga terlalu banyak, paling bibit Cuma sekali doing sama pupuk nya pupuk kandang aja”, ujar Pak Suyatna. Selain bibit dan pupuk, irigasi juga tidak diperlukan dalam penanaman jambu biji ini.
Dalam budidaya tanaman jambu biji pastinya dalam prosesnya terdapat hambatan atau permasalah yang mengganggu pertumbuhan tanaman jambu biji. Salah satu nya adalah serangan hama atau ulat. Hama atau ulat ini merupakan halangan yang cukup besar dalam budidaya tanaman jambu biji karena dapat menurunkan kualitas dan merugikan hasil panen nya. Dalam menghadapi permasalah ini Pak Suyatna, sebagai petani tanaman jambu biji, melakukan tidakan yang dapat mencegah ulat tersebut untuk merusak jambu dengan cara membungkus buah jambu biji yang masih kecil dengan plastik agar ulat yang akan menyerang tidak dapat masuk. Jika tida dibungkus dengan plastik, maka di dalam buah jambu biji tersebut terdapat ulat walaupun diluar terlihat bagus. “untuk mencegah ulat, palingan dibungkus pake plastik. Karena kalau ngga dibungkus, isi nya ada ulat walaupun di luar kelihatan bagus”, ujar Pak Suyatna. Dari berbagai permasalahan tersebut Pak Suyatna belum pernah mengalami gagal panen. Namun, hanya mengurangi keuntungan nya sedikit dari biasanya.
Seperti yang kita ketahui, permasalah umum yang dihadapi petani desa adalah modal. Koperasi memiliki peran penting dalam permodalan ini. Contohnya koperasi simpan pinjam yang dapat meringankan masalah pembiyaan para petani desa yang masih kekurangan modal. Namun sayangnya di desa Rancabungur tersebut belum ada koperasi, baik koperasi simpan pinjam ataupun jenis koperasi lainnya. Ini berarti koperasi belum dapat membantu petani di desa tersebut. Namun, di daerah ini hanya terdapat sejenis pinjaman bank berjalan yang memiliki bunga yang cukup besar.
Harapan Pak Suyatna, petani tanaman jambu biji, ke koperasi yaitu agar bisa bekerja sama dengan koperasi, baik kerjasama dalam pinjaman pemodalan maupun kerjasama dalam pemasaran atau penjualan hasil tanaman jambu biji petani sekitar.
Menurut kami, sesuai dengan keluh kesah petani tanaman jambu biji desa Rancabungur, yaitu pinjaman dengan bunga yang tinggi, maka koperasi sangat diperlukan oleh petani di desa tersebut. Karena sesuai dengan tujuan koperasi yaitu mensejahterakan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, maka dalam pemberian pinjaman koperasi tidak mengambil bunga yang tinggi dari anggota ataupun masyarakat. Koperasi juga perlu melakukan jual beli dengan anggotanya dan masyarakat. Misalnya, koperasi menjual sendiri bibit-bibit dan pupuk yang dibutuhkan oleh anggota nya dengan harga di bawah harga pasar dan membeli hasil panen dari anggota nya dengan harga di atas harga tengkulak. Dengan demikian pemasaran yang dilakukan oleh masyarakat atau petani akan lebih mudah dan laba atau keuntungan yang diperoleh petani akan lebih tinggi. Ini akan menyebabkan kesejahteraan petani akan semakin meningkat.